Tunggu Kabar Pekan Depan
Lewat SMS Pembaca, seorang pembaca WARTA KOTA dengan nomor hp 081286178xxx
menulis: “Anak kami lulus tes rekrutmen karyawan RSUD Pasar Minggu dan sudah
tes kesehatan dan dinyatakan lulus serta sudah dipanggil untuk penempatan.
Tetapi yg terjadi sampai saat ini belum dipanggil lagi. Mohon penjelasan dari
manajemen RSUD Pasar Minggu”.
Pada kesempatan
lain, seorang kawan menceritakan kisah serupa. Ceritanya: adik si kawan ini
diterima di satu instansi dan memperoleh surat penempatan di wilayah provinsi.
Lalu, adik ini membawa surat itu ke alamat yang dimaksud oleh surat penempatan.
Apa lacur, tiba di alamat yang dimaksud, seorang staf di sana berucap: “Oo, ini
salah panggilan. Nama Anda tidak ada di sini.” Adik kawan ini langsung lemas,
capek-capek perjalanan cukup jauh ke wilayah penempatan, tak tahunya jawab yang
diperoleh sungguh mengecewakan.
Apakah ini
sebuah dinamika rekrutmen pegawai negeri? Tentu sangat tidak etis kalau hal
seperti menjadi sebuah dinamika. Sungguh menyakitkan, mempermainkan orang yang
telah berbunga-bunga bakal menyandang status impian.
Tapi,
begitulah beberapa kasus menimpa yang menimpa calon pegawai negeri. Mereka pun
lantas bertanya: jalan panjang perekrutan telah ditempuh, apa yang kurang lagi.
Apakah karena tidak berani mbayar fee rekrutmen? Apakah lantaran tidak ada
orang dalam yang membawa?
Aku jadi
teringat tatkala anakku berburu lowongan kerja setelah lulus kuliah beberapa
bulan lalu. Bersyukur, dari puluhan lamaran terpanggillah oleh empat institusi.
Pertama, sebuah usaha jual-beli
online. Panggilan langsung dengan agenda wawancara dan di akhir wawancara
ditutup dengan kata-kata “tunggu kabar pekan depan”. Sampai berpekan-pekan pun
tak berkabar.
Kedua dan ketiga, institusi badan usaha milik negara yang memanggil. Rangkai
tes lumayan panjang. Sampailah dua-duanya pada tes akhir dengan user. Kata-kata
penutup wawancara juga standar : “tunggu kabar pekan depan”. Berpekan-pekan
pula tidak ada kelanjutan.
Terakhir, keempat, sebuah instansi pemerintah
memanggil. Tes yang mesti diikuti standar saja. Sampai juga di wawancara akhir
dengan user dan terima kalimat penutup: “tunggu kabar pekan depan”.
Kali
terakhir ini betul-betul surprise.
Belum habis satu pekan masa tunggu, datang kabar baik, anakku diterima dan awal
pekan berikutnya diminta mulai masuk untuk masa orientasi kerja. Bersyukur.
Namun ada
yang sedikit mengganjal di benakku setiap kali ketemu tetangga atau kenalan.
Selalu saja mereka bertanya-tanya: punya kenalan orang dalam ya Pak, bayar
berapa Pak, lewat pintu belakang ya Pak, dan masih pertanyaan sejenis terus
menusuk-nusuk benakku. Jawabku sederhana: aku cuma punya Tuhan.
Ya, aku
hanya punya Tuhan. Artinya, setelah anakku berusaha mengetuk pintu rezeqi yang
disediakan Tuhan lalu diperkuat dengan doa –doa si anak sendiri plus doa
orangtua. Jadi bilamana berpekan-pekan tak muncul kabar baik, barangkali kita
belum serius dan fokus melantunkan doa kepada Tuhan Yang Punya Pintu Rezeqi. (*)
Comments
Post a Comment