Ketika Para Preman (Kota Malang) Mengadakan Pengajian
Kota Malang, dulu identik dengan kota preman. Sebab di sanalah
muncul kelompok-kelompok muda yang cenderung atau bahkan sering melakukan
perbuatan melawan hukum atau setidaknya sering membuat masyarakat kawatir.
Entah kapan kelompok ini lahir. Beberapa pengamat mengatakansekitar awal tahun
60an, bersamaan dengan munculnya bahasa walikan. Bahasa khas Malang.
Nama-nama kelompok yang cukup disegani dan ditakuti saat itu
misalnya Moprat singkatan dari Monyet Prapatan, Higam ( Hidup Gembira Awet Muda
), dan Madesu ( Masa Depan Suram ). Kelompok ini tenggelam dan tidak ada lagi
eksistensi setelah adanya ‘penembakan misterius’ terhadap para tokohnya di
tahun 80an.
Namun, bukan berarti kelompok muda yang senang menjadi ‘penguasa
informal ‘ jalanan dan pertokoan menjadi habis. Para generasi penerus ( entah
dari keluarga atau pengikut setia ) melanjutkan keberadaannya dengan membentuk
kelompok yang bersifat ‘agak lunak’ dari para pendahulunya. Mereka menjadi
‘penguasa jalanan dan pertokoan’ bukan untuk melakukan perbuatan yang melanggar
hukum, namun menjadi ‘pengaman.’ Misalnya sebagai tukang parkir atau penjaga
toko dan lingkungan pasar.
Kelompok ini misalnya, AREGREX ( Arek Jalan Gereja ), Arpol (
Arek Polehan kini namanya menjadi Polehanensses ), Artem ( Arek Temenggungan),
Arek mBareng. Nama-nama ini muncul berdasarkan nama tempat: Arek Polehan
tempatnya di Polehan dan seterusnya. Kelompok-kelompok inilah yang menjadi
cikal bakal lahirnya nama Klub Sepakbola Arema.
Kesadaran akan hukum yang semakin tinggi serta pembinaan yang
dilakukan secara konsisten oleh para penegak hukum, aparat pemerintahan, serta
para tokoh masyarakat membuat kelompok-kelompok ini jarang terlibat dalam
masalah hukum. Peristiwa tawuran antar kelompok boleh dikatakan tidak pernah
terjadi lagi hingga saat ini.
Tokoh yang banyak berperan saat itu antara lain almarhum Ebes
Soegiono ( Bapak Soegiono ) mantan Walikota Malang di akhir 70an. Bung Ovan
Tobing mantan penyiar Radio Senaputra yang sering membina secara informal dalam
siarannya.
Pembinaan yang dilakukan Ebes Soegiono misalnya dengan pembinaan
olahraga sepakbola dan tinju. Seperti kita ketahui pada tahun 70 hingga 80an
Kota Malang banyak melahirkan petinju nasional dan OPBF.
Sedangkan tokoh masyarakat melakukan dengan cara membina mental
dan keagamaan, misalnya pengajian. Aparat kepolisian membentuk Satpam ( Satuan
Pengamanan ).
Anak muda tetaplah anak muda. Jiwa muda yang selalu menggelora
dan tidak mau mengalah serta membuat polah ( melakukan pelanggaran ) tetaplah
terjadi dan sulit ditebak.
Di tahun 1982, di wilayah sekitar Alun-alun Kota Malang tak jauh
dari Mesjid Jami dan Gereja Kayutangan sekelompok pemuda berniat mengadakan
pengajian pada hari Maulud Nabi Mohamad SAW. Acara yang muncul dari tokoh muda
ini tentu saja disambut gembira tokoh RW, Kelurahan, dan seorang Kyai di Masjid
Jami.
Maka acara pun dilaksanakan sesuai pada hari yang ditentukan.
Banyak pemuda yang hadir. Mereka tampak tampil beda. Biasanya memakai celana
jeans dan kaos lusuh kini memakai sarung dan kopiah. Tentu hal ini sangat
menyenangkan bagi orangtua dan para tokoh masyarakat. Sang Kyai pun memberi
kotbah dengan guyonan khas Malang yang konyol untuk menarik hati para preman
yang ingin bertobat itu. Apalagi mereka tampak tenang dan kusyuk sambil
menikmati hidangan sederhana; pisang goreng, ketela, dan tape goreng serta
minuman kopi dan teh hangat. Suasana ini semakin membuat semangat Sang Kyai
untuk memberi wejangan.
Dua jam berlalu, Sang Kyai pun mengakhiri wejangannya dan mohon
pamit. Para pemuda yang ada di barisan depan berdiri untuk memberi salam kepada
Sang Kyai. Pemuda di barisan belakangnya pun ikut berdiri dan bermaksud memberi
salam….. Tiba-tiba saja gedebug.. gedebug …… gedebug …. seorang pemuda jatuh
tersungkur dibarengi beberapa pemuda yang lain sambil muntah-muntah dengan
aroma khas minuman keras! Rupanya mereka tadi duduk tenang bukan karena kusyuk
mendengarkan kotbah Sang Kyai tapi sedang ‘fly’ karena pengaruh alkohol.
Pak RT, RW, dan Pak Lurah wajahnya serempak menjadi merah padam
menahan malu dan marah. Sang Kyai pergi meninggalkan tempat pengajian sambil
cengar-cengir………………….
Cak Bas, http://sosbud.kompasiana.com/
Comments
Post a Comment