Mengembalikan Kakatua Jambul Kuning ke Alam Liar


Hasil gambar untuk kakatua jambul kuning
Pesona bulu indah nan cantik atau kicau yang menyiratkan harmoni alam acap membuat manusia memburu burung-burung langka demi memenuhi kesenangan alias hobi. Manusia tak menyadari, kembang-biak yang amat lambat, menjadikan burung-burung langka itu terancam punah.
===============
Masih segar di ingatan kita bahwa burung cantik berwarna kuning yang menderita gara-gara perdagangan ilegal. Burung dengan nama ilmiah Cacatua Sulphurea itu dimasukkan secara paksa ke dalam botol kecil sehingga ada yang sampai harus meregang nyawa. Cacatua sulphurea atau lebih dikenal dengan nama Kakatua  Jambul Kuning itu telah lama meramaikan perdagangan satwa yang dilindungi. Populasi Kakatua Jambul Kuning kini menurun dan, bahkan, mendekati kepunahan.
Kakatua Jambul Kuning sesungguhnya burung yang suka hidup di alam liar. Belakangan banyak dipelihara oleh para pehobi, tak terkecuali pehobi di Jakarta dan sekitarnya. Berangkat dari gejala mendekati kepunahan dan menyelamatkan Kakatua Jambul Kuning, sekitar Mei 2015 lalu Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup mengimbau para pehobi atau siapa saja yang memelihara burung indah endemik asli Indonesia itu untuk melepas-liarkan kembali lewat Kementerian Kehutanan dan LH.
Atas imbauan itu, banyak pehobi dan pemilik (yang sadar bahwa Kakatua Jambul Kuning mendekati punah) tergerak untuk mengembalikannya ke alam liar lewat Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Sampai akhir November lalu, sekitar 20 ekor Kakatua Jambul Kuning diserahkan oleh warga masyarakat dan telah dirawat sementara selama sekitar lima bulan di beberapa lokasi penangkaran seperti Kebun Binatang Ragunan, TMII, Taman Safari dan Tegal Alur. Sifat keliaran burung Kakatua Jambul Kuning dikembalikan agar siap dilepaskan di alam mulai awal Desember 2015.
Cacatua sulphurea merupakan burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 35 cm, dari marga cacatua. Dengan ciri-ciri deskripsi hampir semua bulunya berwarna putih. Di kepalanya terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan. Kakatua Jambul kuning berparuh hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kebiruan dan kakinya berwarna abu-abu. Bulu-bulu terbang dan ekornya juga berwarna kuning. Burung betina serupa dengan burung jantan. Burung ini termasuk hidup di habitat alam liar.
Repotnya, banyak pehobi yang menjinakkan burung pemakan biji-bijian dan buah-buahan itu berubah sesuai selera sang pemilik. Ada yang kemudian hanya suka sate atau martabak. Lalu bagaimana agar Kakatua Jambul Kuning bisa kembali ke alam liar?
Setelah pehobi/pemilik menyerahkan ke Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, burung Kakatua Jambul Kuning tak langsung dilepas-liarkan. Sifat liar burung yang bertipe setia terhadap pasangannya ini harus dikembalikan terlebih dulu.
Kepala posko #SaveSiJambulKuning, drh Indra Exploitasia, menjelaskan, di lokasi penangkaran, burung-burung ini dilatih untuk hidup lebih mandiri. Mereka harus mencari makanan sendiri walau sebenarnya telah disediakan oleh petugas.
"Jadi mereka (burung Kakatua Jambul Kuning) yang biasanya disuapi, sekarang harus mengambil makanannya sendiri," kata drh Indra di tempat penangkaran burung di Bumi Perkemahan Cenderawasih, Jayapura, Papua, akhir November lalu.
Di tempat penangkaran, buah-buah dan biji-bijian seperti jagung dan pepaya, digantung menyebar di pohon-pohon. Sehingga burung-burung yang berada di dalamnya harus bergerak aktif mencari makanan.
Menurut Indra, beberapa burung Kakatua yang diserahkan oleh warga sudah kehilangan selera makan alaminya. Sebab, burung yang dikenal pula dengan nama Jacobs ini selalu diberi makan seperti makanan manusia.
"Ada Jambul Kuning yang cuma bisa makan martabak dan sate karena setiap hari dikasih makanan itu oleh pemiliknya. Jadi burung ini malah nggak doyan saat kita kasih biji-bijian dan buah-buahan," ujarnya.
Burung dengan kondisi semacam itu, demikian penjelasan Indra, harus mendapat penanganan lebih agar dapat dilepas-liarkan. Di Jakarta, burung-burung ini dititipkan di Kebun Binatang Ragunan, TMII, Taman Safari dan Tegal Alur.
Setelah sifat liarnya mulai kembali, burung-burung itu dicek kesehatannya dan dipastikan terbebas dari penyakit. Jacobs juga dites DNA untuk mengetahui asal habitatnya. Setelah itu, dengan menggunakan pesawat cargo, Jacobs dikirim ke habitat asal. Salah satunya adalah  Jayapura, Papua.
Akhir November lalu sebanyak 21 ekor burung Kakatua Jambul Kuning telah dibawa dari Jakarta ke Jayapura. Burung-burung tersebut segera dikembalikan ke habitat asalnya. Dan awal Desember lalu, burung-burung tersebut telah dilepas-liarkan di wilayah Jayapura.
Pelepas-liaran burung Kakatua Jambul Kuning itu, jelas Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, M Gunung Nababan, dilakukan di kawasan Amay, Pegunungan Cyclops, Jayapura. Gunung menjelaskan perlu ada adaptasi burung yang dibawa dari Jakarta itu karena kondisinya masih kurang baik setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Jayapura. "Burung-burung ini harus dilepas di penangkaran dulu sementara supaya tidak stres," katanya.
Burung yang di Papua lebih dikenal dengan nama Jacobs ini sempat beberapa hari dirawat di karantina di Bumi Perkemahan Cenderawasih, Jayapura. Burung-burung tersebut telah diambil sampel darah untuk dicek kondisi kesehatannya.
Semua burung harus dalam kondisi prima sebelum dilepas-liarkan. Selain agar mampu bertahan hidup, juga agar burung yang baru dipulangkan ke habitatnya ini tak menyebarkan penyakit baru. Pelepas-liaran Jambul Kuning ini merupakan kelanjutan dari program #SaveSiJambulKuning yang dilaksanakan sejak Mei 2015.
Cacatua sulphurea merupakan burung endemik Indonesia dan Timor Leste, umum di seluruh Nusa Tenggara (dari Bali ke Timor), Sulawesi dan Kepulauan Masalembo (di Laut Jawa), dan Papua. Sarang Kakatua Jambul Kuning lebih banyak di lubang  pohon. Lubang sarang terletak di ketinggian 6-20 meter di atas tanah. Telur berwarna putih dan biasanya ada 2-3 di dalam sarang. Betina meletakkan telur di lubang pohon, dan diperami oleh betina saat malam hari, dan jantan pada siang hari. Burung ini lebih banyak mendiami dataran rendah dan kadang sebagian di hutan berbukit, tepi hutan, semak belukar dan pertanian. Di Taman Nasional Komodo, burung ini ditemukan pada pesisir kering hujan hutan, umumnya juga menggunakan kawasan mangrove sebagai habitat. (BN)

Boks:
Kembang-biaknya Super Lambat

Suatu hari di Kepulauan Masalembo. Sebatang pohon kapuk yang sudah uzur nyaris meranggas. Di ketinggian sekitar 20 meter. Ada sarang Cacatua Sulphurea Abbotti lengkap dengan telur yang siap dierami.  
Cacatua Sulphurea memang cukup cerdik. Dengan ketinggian sekitar 20 meter, pohon kapuk menjadi rumah yang nyaman bagi calon anakan kakatua dan jauh dari predator.
Butuh waktu sekitar 28 hari bagi Cacatua untuk mengerami telurnya. Bila berjalan lancar, telur akan menetas sempurna dan generasi penerus Cacatua bisa menambah pasukan Cacatua yang tinggal berjumlah 20 ekor di habitat liarnya Kepulauan Masalembo.
Perilaku Cacatua yang setia pada pasangan alias monogami dan hanya memiliki masa berbiak dua kali dalam setahun dengan jumlah telur rata-rata satu butir, membuat perkembang-biakannya super lambat.
Kakatua Jambul Kuning alias Cacatua Sulphurea memiliki 4 jenis anakan yang memiliki ciri dan karakter tersendiri sesuai habitatnya, termasuk Cacatua Abbotti di Kepulauan Masalembo yang saat ini menyandang status criticaly endangered atau hampir punah.
Penyebab punahnya jika natural dari alam maka bisa dipahami. Yang disesalkan, tak jarang tangan jahil manusia ikut menyumbang semakin langkanya hewan dilindungi ini. Jaringan penjualan kakatua langka di kota besar hingga pemburu yang berasal dari masyarakat lokal, semua ikut bertanggung-jawab bila Kakatua Jambul Kuning sampai tinggal sejarah. (*)

Comments

Popular posts from this blog

Seri-Taspen: SEJARAH, JATI DIRI DAN PROBLEMATIKA

Temuan Riset: Kepolisian dan Pemerintah Daerah Tidak Paham Apa itu Ujaran Kebencian

Kekerasan di Perkotaan