Masalah Ekonomi dan Perselingkuhan Penyebab KDRT Terbanyak

Masalah Ekonomi dan Perselingkuhan Penyebab KDRT Terbanyak
Tribun Jogja/ Obed Doni Ardiyanto
Sumarmi, yang didampingi anak keduanya, yang menjadi korban kekerasan rumah tangga yang dilakukan suaminya.

Mengenaik kasus KDRT yang dialami Sumarmi (40) oleh suaminya sendiri, Baki Abadi (51), Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Mutiara Klaten, Sri Widodo, mengatakan KDRT memang disebabkan salah satunya permasalah ekonomi.

“Kondisi ekonomi keluarga menjadi penyebab utama dari pertengkaran dalam rumah tangga, yang bisa memicu kekerasan dalam rumah tangga tersebut. Selain itu, perselingkuhan juga menjadi penyebab terbanyak juga. Tidak sedikit kasus yang terjadi, namun lebih banyak yang tidak laporkan,” tuturnya, di Klaten, Sabtu (3/5).

Pemenuhan kebutuhan keluarga yang tidak dapat tercukupi, lanjutnya, dapat memicu riak-riak pertengkaran dan bisa memicu kekerasan. “Dua orang (suami-istri) terkadang memiliki pandangan berbeda dalam menyelesaikan permasalahan. Selain itu memiliki karakter yang berbeda pula,” jelasnya.

Saat keduanya tidak memiliki solusi yang terbaik, sebaiknya melakukan konsultasi sebelum terlambat dan melakukan tindakan melanggar hukum. Mereka dapat berkonsultasi ke instansi pemerintah.

“Alangkah lebih baik jika ada permasalah dibicarakan dan dicegah sebelum terjadi hal yang tidak diingkan. Kalau membutuhkan konsultan, warga dapat mendatangi Dinas Sosial (Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrsai) Klaten atau ke Kantor KB ke bagian konsultasi permasalah keluarga,” jelasnya.

Namun jika sudah menginjak ke KDRT, P2TP2A di Bagian Kesra Setda Klaten bisa menjadi tempat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan jalan musyawarah. Sri Widodo, mengatakan warga tidak perlu takut atau khawatir terkait identitas dan permasalahan mereka.

“Kami tetap akan menjamin permasalahan dan identitas mereka menjadi sebuah kerahasian kami. Kami juga menganut asas kesetaraan. Jadi tidak ada perbedaan antara kami dengan mereka. Kami hanya ingin memberika solusi yang terbaik, meski pilihan ada di tangan mereka,” paparnya.

Sri Widodo juga menghimbau kepada masyarat yang mendapati ada kejadian KDRT di sekitar rumahnya, segara untuk melaporkan ke P2TP2A. “Mencegah lebih baik daripada kejadia terrus berlanjut dan diulang-ulang,” pungkasnya. (jogja.tribunnews.com)

Comments

Popular posts from this blog

Seri-Taspen: SEJARAH, JATI DIRI DAN PROBLEMATIKA

Temuan Riset: Kepolisian dan Pemerintah Daerah Tidak Paham Apa itu Ujaran Kebencian

Kekerasan di Perkotaan