70 Persen KDRT Akibat Himpitan Ekonomi


Ilustrasi pelecehan/kekerasan terhadap perempuan.

Berdasarkan statistik Direktorat Pekerja Migran dan Korban Tindak Kekerasan, sebanyak 70 persen disebabkan oleh himpitan ekonomi, 18 persen disebabkan oleh perselingkuhan dan 10 persennya karena lemahnya fungsi-fungsi keluarga.
Fakta tersebut menunjukkan, bahwa emansipasi perempuan belum diberikan tempat di tengah-tengah keluarga Indonesia.
Demikian yang dikemukakan Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri di sela-sela peringatan Hari Kartini di lingkungan Kementerian Sosial (Kemsos) di Jakarta, Selasa (23/4).
Meskipun begitu Mensos menilai, emansipasi perempuan di era globalisasi ini jauh lebih baik dibanding zaman-zaman sebelumnya. Pendidikan perempuan, lanjut dia, bahkan ada yang melebihi pendidikan laki-laki.
"Tetapi itu saja tidak cukup, adanya kekerasan di dalam rumah tangga ya berarti belum ada emansipasi. Kekerasan dalam rumah tangga pun tiap tahun bertambah," katanya.
Mensos menilai, peran perempuan dalam interaksi sosial harus ditinjau, diperhatikan dan ditingkatkan. Sebab menurutnya, kekerasan bukan tradisi dan budaya masyarakat Indonesia.
Tak hanya itu, Salim juga mendukung KDRT versi tandingan yakni, keharmonisan dalam rumah tangga. "Keluarga adalah tempat anak-anak mendapat ketenangan, perempuan mendapat perlindungan. Terjadinya kekerasan merupakan sesuatu yang bertolak belakang dengan karakter bangsa ini," ucapnya.
Saat ini, lanjut Salim, seluruh program Kemsos mengarah kepada keharmonisan dalam rumah tangga melalui hadirnya lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga di setiap kabupaten. Lembaga ini menjadi tempat keluarga yang memiliki masalah bisa berkonsultasi.

www.beritasatu.com 

Comments

Popular posts from this blog

Seri-Taspen: SEJARAH, JATI DIRI DAN PROBLEMATIKA

Temuan Riset: Kepolisian dan Pemerintah Daerah Tidak Paham Apa itu Ujaran Kebencian

Kekerasan di Perkotaan