Melawan Premanisme Kita Bisa


Karena diduga melakukan pemerasan terhadap warga dan melakukan pengrusakan di kompleks ruko PT. Tjakra Multi Strategi, Srengseng, Jakarta, Hercules dan 50 anak buahnya ditangkap polisi. Istimewa dalam kejadian ini sebab polisi berani menangkap seorang tokoh preman yang kelasnya bukan preman kelas terminal atau pinggir jalan. Bahkan dalam penangkapan itu, saat digiring ke tahanan Resmob, Hercules diborgol, diapit oleh dua penyidik Resmob berompi antipeluru, dan disuruh jalan jongkok sejauh 30 meter.


Apa yang dilakukan oleh polisi itu menunjukan bahwa sebenarnya, aparat kita, polisi, bisa memberantas preman dan premanisme bila serius dan sungguh-sungguh. Selama ini premanisme marak dan berkeliaran di masyarakat karena ada dugaan tidak seriusnya aparat dalam menindak mereka.
Menindak preman dan premanisme memang bukan perkara yang mudah. Banyak akar permasalahan yang menyebabkan penyakit sosial itu tumbuh di masyarakat, seperti faktor sempitnya lapangan pekerjaan, kemiskinan, kebodohan, bahkan ada pula dugaan mereka digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan masing-masing. Sehinga ketika bertindak tegas hal demikian disebut bukan sebuah solusi yang komprehensif.
Premanisme ada dan tumbuh bukan hanya di Indonesia namun ada di banyak negara seperti Meksiko, Jepang, Equador, bahkan di negara sekelas Rusia premanisme pun menjadi bagian dari kekuasaan negara bekas dedengkot komunis sosialis itu. Dan mereka digunakan oleh elit kekuasaan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Untuk memberantas premanisme, cara pintas yang dilakukan oleh aparat negara biasanya mereka ditembak secara misterius atau terang-terangan. Cara petrus atau penembakan misterius dalam memberantas preman di masa Orde Baru ternyata cara itu tidak hanya dilakukan di Indonesia. Di Rusia, cara yang demikian pun juga dilakukan. Pembunuhan kepada preman memang bisa mengurangi tindak kejahatan yang terjadi di masyarakat namun hal demikian sepertinya tidak menyelesaikan masalah. Yang ada justru timbul pelanggaran HAM dan menimbulkan trauma bagi pihak keluarga.
Pastinya untuk menyelesaikan masalah premanisme adalah memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendidikan, dan distribusi ekonomi yang adil. Terpusatnya perputaran ekonomi di kota-kota besar membuat premanisme marak di kota-kota. Mexico City merupakan sebuah wilayah di mana premanisme sangat menakutkan. Untuk itu maka pemerintah perlu mendistribusikan pusat-pusat perekonomian yang ada. Pendistribusian ini jangan diartikan nantinya akan menyebabkan penyebaran preman namun sebagai langkah untuk mendistribusikan ekonomi dan keadilan sehingga semua orang mempunyai kesempatan mendapat lapangan kerja.

Tidak imbangnya pembangunan di Indonesia, antara Jawa dan luar Jawa, antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur menyebabkan orang-orang luar Jawa berbondong-bondong ke Jawa untuk mengadu nasib namun karena tingkat pendidikan di Indonesia juga tidak merata maka yang datang ke Jawa pun tingkat pendidikannya sangat kurang sehingga mereka akhirnya terjebak pada tindak-tindak melanggar hukum. Maka di sinilah pentingnya pemerintah untuk melakukan pembangunan yang merata sehingga semua tidak menumpuk pada satu titik.

Selain masalah pentingnya menciptakan lapangan kerja, meningkatkan mutu pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi, langkah tegas seperti yang dilakukan aparat dalam menangkap Hercules itu penting dilakukan. Dengan adanya tindakan seperti itu polisi menunjukan bukti bahwa polisi bisa bersikap tegas kepada preman dan kelompoknya. Di sini polisi tak peduli pada siapa yang mem-backing-in Hercules. Keengganan polisi menangkap pria asal Timor Leste sebelumnya karena ada dugaan bahwa ia di-backing-in oleh orang-orang kuat sehingga polisi berpikir seribu kali untuk menangkap dirinya.

Dari peristiwa penangkapan Hercules di Srengseng ada beberapa hal yang kita catat. Pertama, jangan sampai penangkapan Hercules ini karena aparat dan negara tidak membutuhkan ia dan kelompok-kelompok preman lainnya. Selama ini preman dan premanisme marak terjadi dan dibiarkan oleh aparat karena mereka dibutuhkan untuk kondisi-kondisi tertentu seperti sebagai intel, sebagai kelompok yang ditugaskan untuk melawan kelompok sipil yang melawan aparat dan negara, untuk mengeruk keuntungan ekonomi dari pebisnis, dan untuk kepentingan politik. Namun karena peran-peran seperti tadi sudah tidak dibutuhkan maka mereka digulung.

Kedua, penangkapan terhadap preman jangan berhenti pada Hercules saja namun masih banyak tokoh-tokoh preman lainnya yang tingkat kejahatannya setara bahkan lebih. Masyarakat melihat penangkapan kepada Hercules ini akan menyimpulkan bahwa menangkap Hercules saja bisa apalagi kepada preman lainnya, apalagi preman kelas terminal dan jalan.

Ketiga, sebenarnya premanisme sudah marak terjadi namun mengapa baru kali ini aparat baru bertindak tegas kepada tokoh preman. Jangan sampai apa yang dilakukan ini untuk mengalihkan isu-isu yang lagi berkembang saat ini seperti korupsi para elit politik. Dan jangan pula tindakan ini digunakan untuk show force polisi kepada masyarakat bahwa polisi bisa bertindak tegas dan berani melawan backing para preman. Show force polisi ini terkait dengan apa yang terjadi di Mapolres OKU di mana mapolres itu diserbu dan dibakar oleh hampir 100-an anggota TNI Yon Armed Tasik Martapura.

Keempat, apa yang dilakukan oleh aparat polisi di Srengseng itu perlu kita beri apresiasi dan masyarakat perlu mendukung langkah-langkah polisi dalam memberantas preman dan premanisme.

www.beritasatu.com 

Comments