Posts

Showing posts with the label fiksi

MOTIF PEMBUNUHAN OLEH TOKOH SHINJIRO HARASAWA DALAM NOVEL MAJUTSU WA SASAYAKUKARYA MIYUKI MIYABE

OKA KARTIKA SARI Abstract Novel misteri adalah salah satu novel yang menyuguhkan suatu cerita dengan ciri khas tertentu, yaitu adanya teka-teki yang harus dipecahkan dan pastinya membuat para pembaca merasa penasaran hingga akhir cerita. Umumnya jenis novel ini menceritakan tentang tokoh utama yang selalu menghadapi bahaya dan kriminalitas dari pelaku. Pemilihan novel yang dibahas ini berjudul Majutsu wa Sasayaku dan difokuskan  pada motif pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh utama. Untuk membahas pembunuhan tersebut diperlukannya sebuah teori yang dapat mengungkapkan motif yang dilakukan Shinjiro Harasawa. Pendekatan teori yang tepat untuk menggambarkan motif pembunuhan adalah lingkaran motivasi oleh psikologi personologi Henry Murray. Adapun rumusan masalahnya: Motif apa sajakah yang melatarbelakangi pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh Shinjiro Harasawa dalam Novel Majutsu wa Sasayaku karya Miyuki Miyabe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif pe...

Perintis Autopsi pada Zaman Tiongkok Kuno

Image
Seorang dokter kehakiman, bernama Songci, dalam buku karangannya yang berjudul "Xiyuan Jilu" disebutkan, bahwa seorang dokter kehakiman harus teliti dan bertanggung jawab, harus turun tangan sendiri memeriksa nyawa orang yang terluka dan meninggal. Dalam tulisannya, Songci menulis, "Harus mengisi sendiri formulir data yang disediakan, tidak boleh minta diisikan pejabat. Jangan mual terhadap bau jenazah dan menjauhinya, serta membakar pewangian untuk menahan bau itu. Jangan membiarkan pejabat memberi laporan semaunya dan mengisikan formulir, sehingga menyembunyikan yang penting-penting dan yang diisi hanya yang umum saja. Banyak yang dikurangi, sedikit tambahannya." Jika pemeriksaan tidak benar, di samping belum terungkapnya perlakuan tidak adil terhadap korban yang meninggal, muncul lagi rasa diperlakukan tidak adil bagi yang masih hidup. Karena tewasnya satu nyawa, akhirnya berakibat dua bahkan beberapa nyawa ikut melayang, ketidakadilan dan ...

WAKTUNYA (BICARA SOAL) LELAKI

Image
“Perempuan.. Kalian bisa saja mengumbar kejujuran, namun kejujuran bagi lelaki hanya malam lah yang tahu!!” Kalimat di atas merupakan sebuah kutipan yang diungkapkan oleh salah satu tokoh dalam pertunjukan teater bertajuk  “Waktunya Lelaki” .   Pagelaran tesebut diselenggarakan oleh  Teater Agora , sebuah komunitas kecil yang dicetuskan beberapa mahasiswa Filsafat, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pertunjukan berdurasi nyaris empat jam itu, merupakan salah satu rangkaian acara Philosofair  yang digelar selama dua hari, 14-15 Mei 2013 kemarin.  Waktunya Lelaki menceritakan tentang makna kebebasan, tanggung jawab, kuasa, juga dilema dan kerapuhan masing-masing tokohnya, dalam lima plot yang terpisah namun saling berhubungan. Cerita pertama yang disuguhkan adalah tentang kekalahan seorang suami yang tidak dapat mempertahankan bahtera rumah tangganya karena kekecewaan mendalam sang istri akibat belum dikaruniainya anak. Cerita kedua, menyinggung...

HANCUR SEMALAM

Dingin.  Angin tidak lagi berhembus. Mereka mulai memakanku. Tulang-tulangku berteriak kedinginan, tapi otakku menolak diperintah. Tubuhku diam tidak bergerak. Merasakan kebekuan keringat disetiap pori-poriku.  Jangkrikpun enggan bernyanyi. Kesunyian memelukku. Kesepian menemaniku. Aku tetap duduk disana, memandang sang dewi malamyang hanya setengah. Kau lihat bulan itu? karena kita bersama, maka ia terlihat bulat sempurna Telingaku menangkap setiap irisan dalam nafasku. Mataku terpejam, berusaha melenyapkan seluruh resiko kesendirian ini. Ketenangan seperti ini yang kubutuhkan. Teras ini begitu besar malam ini. makhluk hidup hanya aku. Teras ini duniaku malam ini. hanya aku disini. Beratapkan kayu cokelat muram yang melindungi setengah tubuhku. Aku tersenyum getir. Aku ingin kau tahu. Memelukmu seperti ini membuatku merasa utuh Aku menapakkan kakiku pada tanah, membiarkan seluruh cahaya bulan menyinariku. Aku tidak lagi terlindung. Bintang-bintang menatap...

Mimpi Orang Pinggiran

fiksi budi nugroho DARI detik ke menit. Menit ke jam. Jam ke hari. Hari pun merambat pekan lalu bulan. Hampir setahu waktu berlalu. Siang itu Warsiyem menghitung-hitung sisa hasil penjualan nasi pecel di pojok terminal bus kota. Hanya rupiah demi rupiah –setelah dipotong uang jago, iuran tempat usaha, uang pangkalan, dan retribusi daerah. Ya, benar-benar rupiah demi rupiah untuk mencapai jumlah yang diminta perawat rumah bersalin ketika ia meninggalkan orok yang belum 48 jam dilahirkan hampir setahun silam tergolek pucat di ruang perawatan khusus bayi kuning. Demikian pula Samino, suami Warsiyem. Dia harus mengais-ngais rupiah demi rupiah dari sisa mengasong koran dan majalah di perempatan Perintis Kemerdekaan. Kadang, bahkan, dia tidak mampu menyisihkan sisa jualan koran dan majalah gara-gara lari tunggang langgang menghindari orang-orang ketenteraman kota. Koran dan majalah yang dijualnya dirampas tanpa sisa. Balik pun tidak. “Yem, maafkan Kang Mino. Kang Mino tidak...

Rehat

fiksi budi nugroho KRIIING ...kriiiing ...kriiing... Di tengah keasyikan memasak di dapur, siang itu, Sumi buru-buru lari kecil ke telepon yang ada di ruang tamu rumahnya. Ia hafal betul tatkala tengah hari begini, Baskoro (suaminya) menelepon dari kantornya di menanyakan hal-ihwal yang ada di rumah. Ihwal anaknya, ihwal menu hari ini, sampai ihwal kedatangan juru tagih yang kadang menghardik tanpa basa-basi. Dalam umur perkawinannya yang mendekati sewindu itu, Baskoro masih memperlihatkan keintimannya pada Sumi seperti ketika masih berpacaran. Sapa intim dan sentuhan halus ragawi tetap saja menyelimuti bahtera rumah tangga yang telah dikarunia seorang anak itu. Baskoro betul-betul tampil sebagai suami yang baik hati, penuh perhatian, sayang anak dan kasih isteri. Bahkan, di mata mertuanya, Baskoro bagai dewa enolong yang menghidupi keseharian pertuanya yang telah pensiun namun masih harus membiayai sekolah dua adik Sumi --satu masih di bangku SMA dan satu lagi sedang ...

Noda di Pelupuk Mata

fiksi budi nugroho BAYANG sang mentari belum sepenggalah naik. Rasa kantuk, sebenarnya amat sangat menggelayut. Semalaman, memang, Dipo tak sedetik pun memejamkan matanya. Dia mesti menuntaskan semua naskah yang pagi ini sudah harus naik cetak agar lembaran majalahnya tidak telat di tangan khalayak pembaca setia. Terlebih, edisi pekan ini majalahnya jualan kabar ihwal kematian seorag elit partai usai berkencan dengan primadona Jalan Blora. Dipo merasa yakin majalahnya bakal laku keras di pasaran karena dilengkapi laporan pengakuan sang primadona. Primadona sintal nan bahenol yang mengaku berasal dari kampung tandus pegunungan kapur utara Jawa ini menyebut-nyebut tokoh-tokoh elit yang pernah ia layani dengan servis gratis. Ada pucuk eksekutif, ada dari legislatif lokal dan nasional, adalah elit perusahaan yang tak goyah oleh badai krisis multidimensi, ada lagi mantan menteri yang cukup sohor. Imbalannya, sederhana saja, sang primadona selalu beroleh bocoran bakal digelarnya razi...