Posts

Memimpin di Era Turbulensi

Di era digital, seorang pemimpin harus paham situasi lingkungan yang sangat dinamis dan terkadang menghadapi goncangan (turbulen) dari segala arah, termasuk dari internal. Muhammad Awaluddin, Chairman of Indonesia Society Forum (ISDF) MEMASUKI abad milennium, rasa cemas, resah dan gelisah semakin dirasakan warga masyarakat lantaran semua penuh ketidak-pastian (uncertainty). Ketidak-pastian telah menjadi stigma di era milenium saat ini. Perubahan iklim (lingkungan dan bisnis) begitu dinamis, tidak terpola, sehingga sulit diprediksi. Kondisi ini akrab di benak kita sebagai era turbulensi. Sekurang-kurangnya sudah lebih dari satu dekade kita akrab mendengar istilah ini dalam kosakata yang berbeda namun bermuara pada satu hal: ketidak-pastian. Masih hangat di benak kita bahwa pada 1994 saja Richard dAveni telah menulis buku bertajuk Hyper Competition yang pada dasarnya dipicu oleh perubahan iklim bisnis yang dinamis. Namun, turbulensinya semakin cepat dipicu oleh teknologi dan global...

Pemimpin Pelayan (Servant Leader)

“…Kelak sepeninggalku, kalian jangan mengangkat orang yang tidak mencintai tanah air dan rakyat kecil sebagai pemimin, meskipun ia anak dan keturunanku…” I Manyambungi Todilaling, Raja I Balanipa, Pencetus Demokrasi di Mandar SEBAGAI daerah relatif baru, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) berusaha menggenjot pembangunan di berbagai sektor kehidupan agar mampu mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain. Tiada kata lain untuk terus maju, kecuali kerja keras dan kerja cerdas dalam membangun Sulbar yang bermartabat. Dari berbagai segi kehidupan, daerah ini memang masih harus berbenah dan berbenah. Misalkan, hingga kini (2017) masih ada dusun yang belum menikmati aliran listrik. Sebagai Gubernur Sulbar yang baru, Ali Baal Masdar (ABM), memprogramkan listrik masuk ke wilayah dusun-dusun di Provinsi Sulbar. Dia berjanji listrik masuk dusun paling lambat dua tahun ke depan (2019). Masuknya listrik ini diharapkan mampu mendukung program pembangunan ekonomi daerah dan meningkatkan kesej...

Saatnya Mengubah Pendekatan Labelling

note: artikel ini ada di halaman 397 buku "Tito Karnavian Dalam Pusaran Terorisme: Catatan dari Tepian Musi ke Puncak Tribrata", Jakarta: PT Warta Mandiri, 2017 Salah satu program ketika memulai mengemban tugas sebagai Kepala Polri (Kapolri), Jenderal  Tito Karnavian, adalah program penanganan kelompok radikal prokekerasan dan intoleransi yang lebih optimal dengan deteksi dini dan deteksi aksi dalam rangka pemetaan kelompok radikal pro kekerasan dan intoleransi. Jenderal Tito ingin membangun daya cegah dan daya tangkal warga dan merajut kerja sama dengan stakeholder lain. Dia ingin mengintesifkan kegiatan dialogis di kantong-kantong kelompok radikal pro-ekerasan dan intoleransi dan penegakan hukum secara optimal. Saat ini kepolisian –terutama setelah terbentuknya Detasemen Khusus 88 Antiteror yang akrab disebut Densus 88—tampaknya sudah terlanjur memberikan label atau cap kepada kelompok radikla pro-kekerasan dan intoleransi sebagai kelompok teroris. Sayangnya lagi, la...

Playing Victim

Image
25 Februari 2011 Mirna Kamu tahu ‘playing victim’? Playing victim adalah bersikap seolah-olah dirinya adalah orang paling menderita sedunia. Saya menyebut orang yang memiliki sikap seperti ini sebagai ‘playing victim player’. Saya tahu, sebagian orang terutama perempuan suka sekali ‘playing victim’. Bertemu teman, yang dibicarakan hanya betapa sengsaranya ia, betapa jahat bosnya, betapa repot kerjaannya, betapa rewel pasangannya, bla bla bla. Parahnya lagi, kalau temannya juga setipe dengannya. Setelah mendengarkan curhat temannya itu, ia justru berkata, “Ah, kamu sih mending. Bosku/pasanganku/kerjaanku lebih parah dari itu”. Kemudian, ia ikutan ngeluh tentang hidupnya plus ditambahi efek-efek dramatis agar kedengarannya hidupnya jauh lebih menderita dari temannya itu. Sakit, ih. Tapi yah, begitulah perempuan. *ditimpuk wanita sejagad raya* haha… ralat… ralat… semua orang bisa terjangkit penyakit ini, kok. Terus, gimana kalau teman satunya lagi tidak suka permainan ya...

Teknologi Usang Pita Magnetik ATM Rentan Kejahatan

Image
Ilustrasi Kejahatan yang melibatkan mesin ATM masih kerap terjadi. Dan, tak jarang akibat ulah kejahatan ini bisa merugikan hingga ratusan juta. Karena prasarana yang kurang aman, Indonesia disebut masih menjadi lokasi favorit kejahatan siber. Beberapa indikasi mengapa prasarana perbankan kurang aman menurut Pratama Persadha, Chairman CISSReC (Communication and Information System Security Research Center), lebih dari 80 persen mesin ATM di Indonesia masih menggunakan Windows XP, padahal Microsoft sudah menghentikan dukungan keamanannya. Selain itu, teknologi kartu magnetik sekarang ini banyak digunakan pada kartu ATM nasabah merupakan teknologi lama. Pita magnetik tidak dilengkapi dengan enkripsi sehingga dapat dibaca oleh semua alat pembaca pita magnetik. Bahayanya, alat pembaca dan peng-copy data pada pita magnetik sudah banyak beredar yang dikenal dengan skimmer. "Sebenarnya ada yang lebih aman dari pita magnetic, yaitu teknologi chip. Chip di dalam kartu terse...

MONEY POLITIC DALAM PRAKTEK PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM DI INDONESIA

A. LATAR BELAKANG Pengertian  Money Politics , ada beberapa alternatif pengertian. Diantaranya, suatu upaya mempengaruhi orang lain dengan menggunakan imbalan materi atau dapat juga diartikan jual beli suara pada proses politik dan kekuasaan dan tindakan membagi-bagikan uang baik milik pribadi atau partai unatuk mempengaruhi suara pemilih (vooters). Pengertian ini secara umum ada kesamaan dengan pemberian uang atau barang kepada seseorang karena memiliki maksud politik yang tersembunyi dibalik pemberian itu. Jika maksud tersebut tidak ada, maka pemberian tidak akan dilakukan juga. Praktik semacam itu jelas bersifat ilegal dan merupakan kejahatan. Konsekwensinya para pelaku apabila ditemukan bukti-bukti terjadinya praktek politik uang akan terjerat undang-undang anti suap. Perpolitikan lokal selalu melahirkan dinamika. Hal ini menuntut partai politik (parpol) sebagai instrumen demokrasi harus menyelaraskan platform politiknya terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat. Tak s...